Tentang Ekonomi

Migrasi GFA ke IRFCL: Cadangan Devisa Susut US$ 3 Milyar

Oktober 21, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Menarik jika buka ulang kliping-kliping koran lewat internet. Hanya dengan waktu singkat kita bisa baca ulang lagi apa yang sudah terlewat. Misalnya kita ingin buat tulisan tentang Cadangan Devisa, maka dengan mudahnya dapat dikumpulkan beberapa tulisan dari beberapa koran lokal. Belum lagi ditambah dengan sumber-sumber aslinya seperti federal resevered USA, UK, Australia, Hongkong, Singapura, situs IMF dan lain-lain. Terserah kita mau seberapa banyak dan seberapa akurat tulisan kita maka bukan suatu hal yang sulit lagi mengumpulkan informasi dari sumber-sumber aslinya yang tadinya ide datang dari membaca koran atau mendengar opini or berita dari pakar dan pejabat negara.

Ada 8 kliping koran yang terkumpul setelah dipilah-pilah dan jika disambung-sambung bisa menjadi suatu cerita yang menarik. Cara ngumpulin kliping tersebut sangat mudah hanya 0.40 detik. Ketik aja di google “site:kompas.com cadangan devisa” (tanpa tanda petik ngetiknya). Berita tersebut antara lain: Pak Kwik meminta supaya Cadangan Devisa diaudit oleh BPK kemudian pejabat BPK menyambutnya dengan mengatakan ada 38 titik rawan yang harus dibenahi dan sudah dibenahi dengan disaksikan PwC (nah PwC lagi nih.. click ya!), kata pejabat BPK tersebut. Kemudian Bu Miranda menyatakan cadangan devisa susut karena perubahan sistem pencatatan di awal tahun 2000, dari Gross Foreign Assets (GFA) ke International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). Karena nambah susut atau berkurang (bukan karena menguap) sangat rentan jika digunakan sebagian untuk memutuskan hubungan dengan IMF dengan membayar lunas hutang ke lembaga tersebut. Perubahan GFA ke IRFCL tidak lama setelah UU BI No.23 thn 1999 yg bersifat otonomi penuh lahir, hasil dari salah satu poin LoI IMF.

Ada dua kesimpulan yang paling menonjol dari gabungan 8 kliping koran tersebut, (1). begitu besarnya wewenang BI, (2) Perubahan sistem GFA ke IRFCL tanpa ada kabar berita apakah telah meminta restu DPR or BPK. Template IRFCL ini diperkenalkan IMF pada 23 Maret 1999 (ref: http://www.imf.org/external/np/sta/ir/index.htm).

Menurut definisi IMF, IRFCL termasuk off-balance-sheet-components, dikurangi predetermined dan contingent short-term drains. Dengan membaca di media masa dan mendengar keterangan pejabat BI, dengan mengikuti Metoda Chomsky, kita bisa jadi bukan penonton lagi. Karena kita bisa ikut-ikutan menganalisa perubahan kebijakan konsep penghitungan cadangan devisa. Yaitu dengan meneliti kira-kira berapa banyak sih negara di dunia yang ikut-ikutan merubah konsep. Kira-kira USA, UK, Australia, atau Hongkong, or even Singapura, Malay berubah ngak yo? Kalo mereka gak berubah atau ngak ada kabar berita berubah atau ngak, lah what was the reason Miranda G (BI maksudnya red) changed the concept valuation of RI (negara loh, bkn pribadi) foreign reserve? Noam Chomsky mengajarkan, biarlah fakta-fakta yang berbicara dan biarlah pembaca yang memberikan kesimpulannya. Coba deh googling dengan kata GFA & IRFCL. Muncul berapa negara. Pilih situs resmi negara bersangkutan. Baca pelan-pelan. Apa faktanya?

Faktanya adalah: negara-negara yg melaporkan cadangan devisanya ke IMF semuanya mengikuti template baru IRFCL, namun tidak ada berita di negara lain tentang susutnya cadangan devisa karena perubahan dari GFA ke IRFCL. Tidak ditemukan misalnya Negara SIngapura or USA or Japan cadangan devisanya susut sekian milyar dollar karena perubahan konsep dari GFA ke IRFCL. Berita itu hanya ada di Indonesia yang menyatakan susut. Dan menurut situs Bapekki (jika sudah hilang URL nya, click di sini) besar susutnya adalah US$ 3 Milyar Setara Rp. 30 Trilyun. Dari US$ 27 Milyar menjadi US$ 24 Milyar. Selisihnya masuk kelompok contigent short-term drains US$ 3 Milyar. Untuk lebih detailnya dapat dilihat di situs IMF. Sangat jelas terlihat bahwa perubahan konsep tersebut hanya masalah perubahan pengelompokan, in total sih tetap sama. Coba lihat ke situs http://www.imf.org/external/np/sec/nb/2000/nb0049.htm.

Jadi, sebenarnya apa sih yang terjadi? Apakah “susut” tersebut sebenarnya adalah hasil net-off accounting, yaitu net-off dengan suatu kerugian besar lainnya? BLBI kah atau Bank Indover BV kah? Atau ada kaitannya dgn penjualan BCA, Indosat, Gajah Tunggal, dll ke perusahaan imajiner. Dan apakah kami (masyarakat) tidak berhak tahu? (ir/)

Kategori: Uncategorized

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar